Disisi lain, Pyongyang tak menghiraukan tekanan dunia internasional untuk menghentikan uji coba rudalnya. bahkan, rezim Kim Jong-un dikhawatirkan sedang bersiap melakukan tes senjata nuklir keenamnya yang nyata-nyata melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB.
Sejumlah orang dari ilmuwan hingga mereka yang mengaku peramal memprediksi, konflik terbuka di Semenanjung Korea bisa kapan saja pecah.
Pertempuran di salah satu titik panas konflik di dunia itu diyakini akan melibatkan berbagai kekuatan. tak hanya di Semenanjung Korea, konflik juga diprediksi merambat ke sejumlah lokasi lain di dunia, jika itu yang terjadi, niscaya Perang Dunia lll tak terelakan.
Jika benar Perang Dunia lll pecah, lantas siapakah yang akan menjadi sekutu Korea Utara?
Pertanyaan tersebut relevan diajukan menyusul perkembangan terakhir dimana hubungan Korut dan sekutu terdekatnya, China tak lagi mesra, bahkan cenderung memanas.
Pada 4 Mei 2017, corong propaganda Korea Utara KCNA melontarkan kritik terbuka kepada China, sebuah sikap yang tak pernah ditunjukan sebelumnya.
KCNA menuding, China telah memberikan komentar sembrono tentang program rudal nuklir Korea Utara.
Padahal, relasi kedua negara telah laman terjalain, sejak 6 Oktober 1040 kala China dan Korea Utara kali pertama menjalin hubungan diplomatik, Tiongkok bahkan membantu Korut melawan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat pada Perang Korea 1950.
Tak hanya itu, bagi Korea Utara, China merupakan rekan dagang utamanya, salah satu komoditas utama Pyongyang yang diekspor ke Beijing adalah batu bara, sedangkan China merupakan penyuplai hampir separuh dari kebutuhan produk impor negara di utara Semenanjung Korea itu.
Jadi, Siapa yang akan membela Kim Jong-un jika pada suatu hari AS memutuskan untuk menyerang Korea Utara?
Dikutip dari Inquisitr pada Jumat 5/5/2017, ada kemungkinan China enggan membela Korea Utara.
Jika memang demikian, ada kemungkinan Korut mencari sekutu lain, tak hanya mengandalkan nostalgia pada era Perang Dingin, Korea Utara mungkin memberikan sejumlah tawaran. hal tersebut diungkap dosen hubungan internasional King's College London Ramon Pardo kepada Newsweek.
Selain itu, Pardo menambahkan, rezim Kim Jong-un juga bisa menawarkan teknologi persenjataan mereka. "itu bukan teknologi maju, tapi semua negara membutuhkannya",tambah dia.
Dengan berkurangnya dukungan China kepada Korea Utara, Rusia diprediksi bisa menjadi sekutu paling diandalkan.
Meskipun mengecam retorika dan program nuklir bombastis Korut, Rusia tak ragu memperluas kerja sama perdagangan dan investasi di Korea Utara.
Rusia juga telah merevitalisasi kereta api dan jaringan transportasi lain di Korut, juga mendatangkan kapal tanker minyak Rusia ke Korea Utara dari kota pelabuhan Vladivostok.
Sementara, Rusia bisa menggantikan China sebagai penyambung hidup bagi Korut, melawan sanksi yang dijatuhkan PBB dan dunia internasional kepada Pyongyang. hingga saat ini, China masih berkontribusi sekitar 90 persen dalam perdagangan Korea Utara, demikian menurut Politifact.
========================================================================
Apakah anda sudah memiliki user ID untuk bermain Poker ? Jika belum segera hubungi
Customer Service Online kami di WWW.SALAMPOKER.COM dan Customer Service 24 jam kami
akan melayani anda dengan ramah mengenai proses registrasi dan deposit.
SALAMPOKER.COM merupakan solusi judi poker online terbaik dalam permainan poker.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar